Minggu, 20 April 2014

Belajar dan Pembelajaran Menurut Pandangan Behavioris

.
0 komentar



Belajar dan Pembelajaran Menurut Pandangan Behavioris

Menurut Jeanne Ellis Ormrod dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Jilid 1 Edisi kelima, Behaviorisme adalah perspektif teoritis di mana belajar  dan dijelaskan dalam kerangka hubungan stimulus-respon. Dimana memusatkan perhatian pada bagaimana stimulus-stimulus lingkungan menyebabkan perubahan perilaku-perilakku orang. Menggunakan teori behavioris untuk memahami bagaimana, sebagai guru, kita dapat membantu siswa memperoleh perilaku yang mungkin lebih kompleks, produktif, atau prososial daripada perilaku-perilaku yang mereka tampilkan ketika mereka pertama kali masuk ke kelas.
Asumsi-asumsi Dasar Behaviorisme
Orang cenderung mempelajari dan menunjukkan perilaku yang menghasilkan, setidaknya di mata mereka, konsekuensi-konsekuensi yang diinginkan. Dan lebih umum, perilaku orang sebagian besarnya merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan stimulus-stimulus lingkungan.
1.  Perilaku orang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan stimulus-stimulus lingkungan.
Seseorang lahir bagaikan sebuah kertas kosong, selama beberapa tahun, lingkungan akan menulis pada kertas kosong tersebut, membentuk secara perlahan, atau mengkondisikan individual menjadi seseorang yang memiliki karakteristik dan cara berperilaku yang unik.

2.   Belajar dapat digambarkan dalam kerangka asosiasi di antara peristiwa-peristiwa yang dapat diamati (asosiasi antara stimulus dan respons).
Menurut behavioris, pemeriksaan psikologis seharusnya berfokus pada respon-respons yang dibuat oleh pembelsjsr dan stimulus-stimulus lingkungan yang menimbulkan respon-respon tersebut.

3.      Belajar melibatkan perubahan perilaku.
Beberapa behavioris mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam perilaku karena pengalaman.

4.      Belajar cenderung terjadi ketika stimulus dan respon muncul dalam berdekatan.
Ketika dua kejadian muncul pada waktu yang kurang lebih sama, stimulus-respons dapat dikatakan ada kontiguitas di antara kejadian-kejadian tersebut. Respons adalah perilaku spesifik yang dimunculkan oleh seorang individu. Dan stimulus adalah objek atau kejadian spesifik yang memengaruhi pembelajaran atau perilaku individu.

5.      Belajar dengan cara-cara yang sama.
Yaitu berfokus pada kondisioning klasik dan kondisioning operant.
Kondisioning Klasik

Yaitu bentuk pembelajaran dimana respons yang baru dan tidak sengaja ditampilkan sebagai hasil dari hadirnya dua stimulus pada saat yang bersamaan. Dalam istilah yang lebih umum, kondisioning klasik berlangsung sebagai berikut :
1)  Unconditioned stimulus – USC (stimulus tak terkondisi) dimana stimulus yang menimbulkan respons tertentu tanpa pembelajaran sebelumnya. Kemudian menimbulkan unconditioned response – UCR (respons tak terkondisi) dimana respons yang ditimbulkan oleh stimulus USC tertentu tanpa pembelajaran sebelumnya.
2)     Stimulus netral yang stimulusnya tidak menimbulkan respons-respons tertentu.
3)   Conditioned stimulus – CS (stimulus terkondisi) dimana stimulus yang dapat menimbulkan respons tertentu melalui kondisioning klasik. Dan respon terhadap stimulus ini dinamakan conditioned response – CR (respons terkondisi) dimana respons yang dapat ditimbulkan oleh stimulus (terkondisi) tertentu melalui kondisioning klasik.
Contoh : Bernard pernah jatuh ke dalam kolam renang dan hampir tenggelam. Setahun kemudian, ketika ibunya membawanya ke pusat rekreasi local untuk mengikuti les berenang, dia menangis histeris selagi ibunya mencoba menariknya ke pinggir kolam renang.
Stimulus tak terkondisi (UCS) : ketikmampuan bernafas. Respons tak terkondisi (UCR) : takut tidka bisa bernafas. Stimulus terkondisi (CS) : kolam renang. Respons terkondisi (CR) : takut kolam renang.
Fenomena Umum dalam Kondisioning Klasik
·         Generalisasi. Yaitu fenomena dimana seseorang mempelajari sebuah respons terhadap stimulus tertentu dan kemudian membuat respons yang sama terhadap stimulus yang serupa; dalam kondisioning klasik, hal ini mencakup membuat respons terkondisi terhadap suatu stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi.
·         Ekstinki. Yaitu penghilangan secara bertahap sebuah respons yang telah diperoleh; dalam kondisioning klasik, hal itu merupakan hasil kehadiran secara berulang dari stimulus terkondisi tanpa disertai kehadiran stimulus tak terkondisi.
Para psikolog telah mempelajari bahwa satu cara menghilangkan sebuah reaksi emosional negative terhadap sebuah stimulus terkondisi tertentu ialah memperkenalkan stimulus itu secara perlahan dan bertahap selagi siswa sedang merasa senang atau rileks.
Kondisioning Operant
Yaitu bentuk pembelajaran di mana sebuah respons meningkat frekuensinya karena diikuti penguatan.  Sedangkan kontingensi yaitu situasi dimana sebuah peristiwa terjadi hanya setelah peristiwa lain telah terjadi; satu peristiwa berdekatan (kontingen) dengan peristiwa lainnya.

Sumber : Buku Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Jilid 1 Edisi Keenam karya Jeanne Ellis Ormrod

readmore »»

Minggu, 09 Oktober 2011

Bike to Work

.
0 komentar

BERSEPEDAH
   Mungkin bila bersepeda hanya untuk berolah raga atau bermain itu hal yang biasa. Namun bila kita bersepedah untuk berpergian itu jarang dilakukan. Apalagi di daerah perkotaan seperti DKI Jakarta ini. Setiap orang ingin berpergian menggunakan kendaraan motor atau mobil. Mungkin mereka berpikir menggunakan kendaraan itu akan menghemat waktu dengan hanya mengeluarkan uang yang mereka punya. 
   Tetapi jika kita berpikir lebih jauh, berpergian menggunakan sepeda itu lebih baik. Selain badan kita sehat, kita sudah mengurangi bahan bakar yang tidak dapat didaur ulang, dan dengan bersepedah kita tidak membuat kerusakan pada bumi ini. Terutama para pelajar yang letak sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumahnya.


   

      Jika anda berminat bersepedah, silahkan pilih model sepedah yang anda suka.










Sepedah Fixie





Sepedah Polygon

Sepedah Lipat



readmore »»

Egoisme Penyebab Kerusakan Alam dan Lingkungan

.
0 komentar

   Apa hubungannya egoisme dengan kerusakan lingkungan? Ada! Egoisme dan ketidakpedulian kita dalah penyebab timbulnya segala permasalahan lingkungan yang kita alami hari ini.
   Banyak dari kita yang hanya memikirkan kenyamanan pribadi tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi pada lingkungan di sekitar kita maupun lingkungan global secara keseluruhan. Hanya karena merasa punya uang, kita tidak mengindahkan peringatan dan himbauan untuk melakukan penghematan energi.
"Ah, saya mampu membayar berapapun tagihan listrik yang ada. Jadi terserah saya dong untuk memakai listrik sesuka hati saya. Saya sanggup membeli BBM berapapun yang saya mau, jadi terserah saya dong mau beli mobil yang borosnya kayak apa."
   Renungkanlah berapa banyak energi dan sumber daya yang harus terbuang sia-sia hanya karena orang-orang ingin menikmati kenyamanan yang sesungguhnya tidak benar-benar mereka perlukan. Berapa banyak energi dan sumber daya yang terbuang sia-sia hanya karena ingin melihat tampil bergengsi.
   Orang-orang seringkali membeli hal-hal yang tidak mereka perlukan, mengganti barang-barang yang semestinya masih bisa digunakan hanya karena alasan bosan. Kita tidak pernah memikirkan berapa banyak tenaga dan sumber daya planet ini yang rusak untuk memenuhi kebutuhan egois kita tersebut.
   Camkanlah satu hal : Uang Anda memang bisa membeli berliter-liter BBM, tetapi uang tersebut tidak dapat mengembalikan tiap liter BBM yang telah Anda ambil dari alam. Butuh jutaan tahun untuk menghasilkan BB< yang Anda nikmati tersebut.
   Janganlah memikirkan kenyamanan hidup Anda sendiri. Setidaknya pikirkanlah keadaan generasi penerus Anda, mereka harus menjalani hidupnya dengan segala sumber daya yang sangat terbatas karena ulah orang tua, kakek nenek, dan nenek moyangnya di masa lalu.
   Lalu Anda akan berpikir, tetapi bukankah kita memiliki energi alternatif seperti bio fuel, hidrogen, dan lain-lain? Tetap saja semua itu tidak gratis, selalu ada yang harus dikorbankan. Bio fuel menyebabkan kerusakan lingkungan karena penanaman tanaman bahan bakar tersebut membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Hidrogen masih mahal dan belum dapat diproduksi dengan efisien. Bagaimana seandainya planet kita sudah hancur duluan sebelum kita dapat menikmati semua kenyamanan teknologi tersebut? Saat ini kita berpacu dengan waktu.
   Begitu banyak orang di belahan dunia lainnya yang sangat membutuhkan tiap tetes BBM yang kita nikmati, tiap tetes air bersih yang kita nikmati, dan hal-hal mendasar lainnya untuk mendukung kehidupan mereka. Berhematlah dalam segala bentuk yang Anda bisa. Lakukanlah untuk dunia, lakukanlah untuk generasi penerus Anda.

Sumber : Buku Global Warming (Agus R. dan Rudy S.) hal 21

readmore »»
 

Followers

About Me

Irna Hasanah
Saya sekolah di SMAN 67 Jakarta, Kelas XI IPA 4
Lihat profil lengkapku