Belajar dan Pembelajaran Menurut
Pandangan Behavioris
Menurut Jeanne Ellis Ormrod dalam
bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang
Jilid 1 Edisi kelima, Behaviorisme adalah perspektif teoritis di mana
belajar dan dijelaskan dalam kerangka
hubungan stimulus-respon. Dimana memusatkan perhatian pada bagaimana
stimulus-stimulus lingkungan menyebabkan perubahan perilaku-perilakku orang. Menggunakan
teori behavioris untuk memahami bagaimana, sebagai guru, kita dapat membantu
siswa memperoleh perilaku yang mungkin lebih kompleks, produktif, atau
prososial daripada perilaku-perilaku yang mereka tampilkan ketika mereka
pertama kali masuk ke kelas.
Asumsi-asumsi Dasar
Behaviorisme
Orang
cenderung mempelajari dan menunjukkan perilaku yang menghasilkan, setidaknya di
mata mereka, konsekuensi-konsekuensi yang diinginkan. Dan lebih umum, perilaku
orang sebagian besarnya merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan
stimulus-stimulus lingkungan.
1. Perilaku
orang sebagian besar merupakan hasil dari pengalaman mereka dengan
stimulus-stimulus lingkungan.
Seseorang
lahir bagaikan sebuah kertas kosong, selama beberapa tahun, lingkungan akan
menulis pada kertas kosong tersebut, membentuk secara perlahan, atau
mengkondisikan individual menjadi seseorang yang memiliki karakteristik dan
cara berperilaku yang unik.
2. Belajar
dapat digambarkan dalam kerangka asosiasi di antara peristiwa-peristiwa yang
dapat diamati (asosiasi antara stimulus dan respons).
Menurut
behavioris, pemeriksaan psikologis seharusnya berfokus pada respon-respons yang
dibuat oleh pembelsjsr dan stimulus-stimulus lingkungan yang menimbulkan
respon-respon tersebut.
3.
Belajar
melibatkan perubahan perilaku.
Beberapa
behavioris mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam perilaku karena
pengalaman.
4.
Belajar
cenderung terjadi ketika stimulus dan respon muncul dalam berdekatan.
Ketika
dua kejadian muncul pada waktu yang kurang lebih sama, stimulus-respons dapat
dikatakan ada kontiguitas di antara kejadian-kejadian tersebut. Respons adalah
perilaku spesifik yang dimunculkan oleh seorang individu. Dan stimulus adalah
objek atau kejadian spesifik yang memengaruhi pembelajaran atau perilaku
individu.
5.
Belajar
dengan cara-cara yang sama.
Yaitu
berfokus pada kondisioning klasik dan kondisioning operant.
Kondisioning
Klasik
Yaitu bentuk
pembelajaran dimana respons yang baru dan tidak sengaja ditampilkan sebagai
hasil dari hadirnya dua stimulus pada saat yang bersamaan. Dalam istilah yang
lebih umum, kondisioning klasik berlangsung sebagai berikut :
1) Unconditioned
stimulus – USC (stimulus tak terkondisi) dimana stimulus yang menimbulkan
respons tertentu tanpa pembelajaran sebelumnya. Kemudian menimbulkan
unconditioned response – UCR (respons tak terkondisi) dimana respons yang
ditimbulkan oleh stimulus USC tertentu tanpa pembelajaran sebelumnya.
2) Stimulus
netral yang stimulusnya tidak menimbulkan respons-respons tertentu.
3) Conditioned
stimulus – CS (stimulus terkondisi) dimana stimulus yang dapat menimbulkan
respons tertentu melalui kondisioning klasik. Dan respon terhadap stimulus ini
dinamakan conditioned response – CR (respons terkondisi) dimana respons yang
dapat ditimbulkan oleh stimulus (terkondisi) tertentu melalui kondisioning
klasik.
Contoh
: Bernard pernah jatuh ke dalam kolam renang dan hampir tenggelam. Setahun kemudian,
ketika ibunya membawanya ke pusat rekreasi local untuk mengikuti les berenang,
dia menangis histeris selagi ibunya mencoba menariknya ke pinggir kolam renang.
Stimulus
tak terkondisi (UCS) : ketikmampuan bernafas. Respons tak terkondisi (UCR) :
takut tidka bisa bernafas. Stimulus terkondisi (CS) : kolam renang. Respons terkondisi
(CR) : takut kolam renang.
Fenomena Umum dalam
Kondisioning Klasik
·
Generalisasi.
Yaitu fenomena dimana seseorang mempelajari sebuah respons terhadap stimulus
tertentu dan kemudian membuat respons yang sama terhadap stimulus yang serupa;
dalam kondisioning klasik, hal ini mencakup membuat respons terkondisi terhadap
suatu stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi.
·
Ekstinki.
Yaitu penghilangan secara bertahap sebuah respons yang telah diperoleh; dalam
kondisioning klasik, hal itu merupakan hasil kehadiran secara berulang dari
stimulus terkondisi tanpa disertai kehadiran stimulus tak terkondisi.
Para
psikolog telah mempelajari bahwa satu cara menghilangkan sebuah reaksi
emosional negative terhadap sebuah stimulus terkondisi tertentu ialah
memperkenalkan stimulus itu secara perlahan dan bertahap selagi siswa sedang
merasa senang atau rileks.
Kondisioning Operant
Yaitu
bentuk pembelajaran di mana sebuah respons meningkat frekuensinya karena
diikuti penguatan. Sedangkan kontingensi
yaitu situasi dimana sebuah peristiwa terjadi hanya setelah peristiwa lain
telah terjadi; satu peristiwa berdekatan (kontingen) dengan peristiwa lainnya.
Sumber : Buku Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Jilid 1 Edisi Keenam karya Jeanne Ellis Ormrod
readmore »»